Facebook  Twitter  Google+ Yahoo Instagram

Translate

Senin, 15 Juni 2015

Kisah Inspiratif Blogger Aceh di Sentra Kerajinan Songket Aceh Nyakmu



Setelah membuat janji sebelumnya, saya bersama teman-teman dari Gaminong Blogger (GIB): Bang Hijrah, Citra dan Mira berkunjung ke Desa Siem, Kec. Darussalam, Aceh Besar, untuk melihat dari dekat sentra kerajinan usaha tenun tradisional Aceh Songket Nyakmu. Songket Nyakmu adalah usaha kerajinan tenun tradisional yang telah dikembangkan secara turun temurun. Adalah Almh. Hj. Maryamu, atau yang dikenal dengan Nyakmu yang bekerja keras mempopulerkan dan mewariskan tradisi ini pada warga Desa Siem, Kec. Darussalam, Kab. Aceh Besar. Kami disambut hangat oleh Pak Anshari, menantu dari mendiang Nyakmu di rumah beliau.

Sesampainya di rumah beliau, kami dipersilakan duduk di ruang tamu di mana dipajang foto-foto penanda sejarah tenun "Ija Sungket" yang pernah meraih gelar Upakarti oleh Presiden Soeharto pada Desember 1991. Bang Hijrah, Citra, Mira dan Hanum yang belakangan hadir menyimak penjelasan dari Pak Anshari dan Ibu Dahlia. Ibu Dahlia adalah putri dari Almh. Hj. Maryamu yang meneruskan tradisi menenun "Ija Sungket" ini.



Selain Ibu Dahlia, ada tiga perempuan Desa Siem yang segenerasi dengan beliau yang masih menjalani kegiatan menenun Ija Sungket ini. Seiring perkembangan zaman, tradisi menenun Ija Sungket mulai kurang diminati oleh generasi muda yang cenderung menekuni profesi yang lebih menjanjikan secara ekonomi. Mahalnya bahan baku menyebabkan pendapatan dari hasil menenun relatif kurang memadai.

Sambil menyimak penjelasan dari Pak Anshari dan Bu Dahlia, kami memperhatikan sejumlah hasil karya tenun dari koleksi Songket Aceh Nyakmu. Warna-warna cerah dipadukan dengan motif-motif yang mencapai 52 motif. Motif-motif tersebut diajarkan secara turun temurun oleh Nyak Mu, yang juga mewarisi keahlian menenun ini dari generasi pendahulu beliau.

Di masa jayanya, Songket Aceh Nyakmu kerap mengikuti pameran hingga ke mancanegara. Bahkan pada masa Gubernur Aceh Prof. Dr. Ibrahim Hasan, MBA, upaya Hj. Maryamu atau Nyakmu dalam melestarikan tradisi tenun tradisional songket Aceh ini mendapat penghargaan Upakarti yang diserahkan langsung oleh Presiden Soeharto pada Desember 1991. Dukungan pemerintah daerah yang besar kala itu untuk produk-produk kerajinan budaya Aceh sangat bermakna bagi sejarah perkembangan tenun Songket Aceh Nyakmu.

Setelah menyaksikan sejumlah songket dan foto-foto profil serta motif Songket Nyakmu, kami diajak berkeliling melihat-lihat peralatan songket di sebuah bangunan sederhana. Dari sebuah bangunan semi permanen yang tampaknya telah beumur puluhan tahun kami menyaksikan peralatan menenun tempat Songket Aceh Nyakmu dikerjakan. Di samping bangunan tersebut terdapat sebuah Rumoh Aceh yang merupakan tempat tinggal Nyakmu semasa hidupnya.


Di bawah rumah panggung tersebut terdapat sebuah alat pemintal benang hasil sumbangan pemerintah daerah Aceh. Alat tersebut kini sudah tidak dapat dipergunakan lagi oleh karena butuh perawatan khusus, di samping keahlian untuk memintal benang yang belum sempurna diwariskan oleh mendiang Nyakmu.







Dulu, dengan adanya alat pemintal benang ini usaha kerajinan tenun tradisional ini dapat menghemat biaya bahan baku dimana benang dipintal langsung dari bahan kepompong ulat sutera. Sayangnya, dengan tidak dapat dioperasikannya alat pemintal benang ini, Pak Anshari harus membeli dulu benang dengan harga yang relatif mahal.


Kami kemudian mampir ke rumah Kak Ida, seorang pengrajin "Ija Sungket" lainnya. Karena hari Minggu, maka sebagian peralatan menenun sudah dibawa pulang ke rumah. Di rumah itu kami diperlihatkan bagaimana cara memasukkan benang dan menghitung apabila terjadi kesalahan memasukkan benang. Wah, ternyata rumit juga ya pembuatan tenun "Ija Sungket" yang telah dipertahankan secara turun temurun oleh warga Desa Siem, Aceh Besar ini. Butuh ketekunan dan kesabaran serta kerapihan dalam mengerjakannya.

Salah satu kendala dalam pengembangan usaha tenun Songket Aceh Nyakmu selain dari prospek pemasarannya juga terkendala oleh terbatasnya pengetahuan tentang tenun tradisional khas Aceh itu sendiri. Banyak murid-murid binaan Almh. Hj. Maryamu yang sudah tersebar di daerah-daerah sehingga perlahan-lahan ilmu tersebut mulai hilang seiring pergantian generasi.




Hari itu kami menyimak semangat dan kegigihan keluarga penerus Songket Aceh Nyakmu di Desa Siem, Kec. Darussalam, Aceh Besar dalam mempertahankan budaya tradisional Aceh -- warisan tradisi yang tak ternilai harganya. Saya pun kembali teringat diskusi bersama sahabat saat berwisata ke Ie Sue'um Krueng Raya, Aceh Besar beberapa waktu silam. Akan ada masanya kekayaan alam akan habis, dan di saat itulah masyarakat baru menyadari akan pentingnya menjaga kelestarian warisan budaya tradisionalnya. Kalau bukan kita siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi.

(nowayreturn.blogspot.com)


Cara Seo Blogger

Berita dan Tips-Tips Terbaru