Facebook  Twitter  Google+ Yahoo Instagram

Translate

Minggu, 17 Juli 2016

Ini dia Batik Jambi


Batik, merupakan salah satu warisan budaya adiluhung Nusantara, Batik Jambi salah satunya. Batik Jambi banyak diminati, tidak hanya masyarakat biasa, tetapi juga istana hingga pasar mancanegara.

Adalah Rumah Batik Azmiah, salah satu produsen lokal batik Jambi yang masih eksis selama lebih dari 30 tahun. Rumah Batik Azmiah didirikan oleh Azmiah pada 1984. Azmiah merupakan generasi kedua dari pengrajin Jambi Asmah, yang sudah membatik sejak akhir 1970.

Terletak di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, atau sekitar sejam perjalanan dari Bandara Sultan Thaha, Azmiah dan 40 orang pekerjanya memproduksi berbagai rupa batik Jambi.

Edy Sunarto, suami Azmiah yang lebih banyak bertugas sebagai desainer, menyebutkan beberapa motif yang diproduksi antara lain, kapal sanggat, tampuk manggis, bungo keladi, serta merak ngeram.

motif Kapal Sanggat
sumber: google


"Masing-masing motif memiliki filosofinya. Seperti tampuk manggis. Manggis itu kan di luar kulitnya hitam jelek, tapi di dalamnya buahnya putih. Ini artinya jangan menilai orang dari luarnya saja," ujar Edy sembari menunjukkan proses pembuatan batik kepada kompas.com dan rombongan wartawan, Jambi, Sabtu (16/7/2016).

Motif tampuk manggis melukiskan penampang buah manggis yang menampakkan kulit luar, daging kulit, dan isi buah secara keseluruhan. Ilustrasi ini bermakna kebaikan budi pekerti, kehalusan akhlak, dan kebaikan hati tak dapat dilihat dari kulit luarnya saja.

motif Tampuk Manggis
sumber: google


Adapun motif kapal sanggat memiliki filosofi agar manusia berhati-hati dalam menjalankan suatu pekerjaan. Kelalaian dalam menjalankan tugas akan menyebabkan musibah dan malapetaka.

"Pesannya, kalau berlayar hati-hati, jangan sampai kandas," kata Edy.

 Warna klasik dan corak yang unik menjadi daya tarik produksi batik Azmiah. Maklum saja, kata Edy, proses membatiknya lebih panjang dari batik-batik pada umumnya.

Edy bilang, kalau biasanya proses membatik berhenti pada 2 kali pewarnaan dan 'nglorot', proses di rumah produksinya diulang 2 kali lagi.

"Setelah jadi seperti ini (sambil menunjukkan contoh), ini kan yang biasanya dijual orang-orang, kemudian kita tutup lagi (dengan warna), lorot lagi, tutup lagi, lorot lagi. Jadilah warna yang lebih klasik," kata Edy.

Tak heran, produksi Azmiah diminati oleh kalangan istana bahkan sampai mancanegara. Sudah dua kali ini istana memesan batik Jambi produksi Azmiah.

Kali pertama sebelum Presiden berkunjung ke Korea Selatan, Mei 2016 lalu. Edy mengatakan, saat itu istana memesan 70 lembar batik tulis. Kedua, istana kembali memesan satu setengah koper batik Azmiah untuk seragam.

Harga batik Azmiah dibanderol hingga mencapai Rp 4 juta per lembar dengan ukuran 2 meter x 1,05 meter.

Keunikan produksinya, Batik Azmiah diminta oleh PT Angkasa Pura II (Persero) untuk menampilkan karyanya di Bandara Sultan Thaha, Jambi.

Direktur Utama AP II Budi Karya Sumadi saat berkunjung ke Rumah Batik Azmiah, menawarkan Azmiah untuk membuka gerai di Bandara. Selain itu AP II juga membeli 7 lembar batik untuk dipajang di sepanjang koridor kedatangan.

Pajangan batik Jambi tersebut dimaksudkan untuk menciptakan atmosfer Jambi bagi para penumpang yang baru tiba di Bandara Sultan Thaha.

sumber : kompasdotcom
Cara Seo Blogger

Berita dan Tips-Tips Terbaru