Facebook  Twitter  Google+ Yahoo Instagram

Translate

Minggu, 20 November 2016

Bekraf Dukung Perajin Tenun Songket Lombok Tengah Rambah Fesyen

Bekraf Dukung Perajin Tenun Songket Lombok Tengah Rambah Fesyen
Foto : kompas.com


Para perajin tenun songket di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat bersiap merambah bisnis fesyen setelah mendapat bimbingan dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).


"Pelatihan diberikan guna menjawab perkembangan pasar serta memberi nilai tambah atas produk yang dibuat perajin," kata Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Sungkari pada acara penutupan "workshop" untuk para perajin tenun songket di Lombok Tengah, Kamis.

Kegiatan ini diikuti oleh 50 perajin tenun songket yang berasal dari Dusun Matek Maling, Desa Ganti, Dusun Wadek, dan Desa Ternak Rarang.

Para perajin mengikuti pembinaan dan pendampingan yang dilakukan oleh Bekraf selama tiga bulan, dimulai September hingga November 2016. Bimbingan tersebut dilakukan dalam rangka pembentukan Ekosistem Desa Kreatif.

Sungkari mengatakan banyak wisatawan yang belakangan ini memilih wilayah Lombok Tengah sebagai tujuan wisata sehingga pasar untuk produk-produk kreatif dari perajin lokal sangat terbuka lebar termasuk juga tenun songket.

"Sebagai sentra tenun songket, Lombok Tengah harus mampu menangkap peluang ini. Tak hanya kain tenun, para perajin harus bisa juga membuat baju. Jika para perajin bisa mendesain dan memproduksi baju dari kain tenun, prospek bisnis kain tenunnya akan semakin meningkat," ujarnya.

Selama proses pembinaan, kata Sungkari, pihaknya memberikan materi meliputi pembuatan motif baru, pewarnaan alami, hingga membuat desain baju dengan bahan kain tenun tersebut.

Selama ini, para perajin hanya bisa membuat motif-motif klasik pada kain tenunnya dan tidak ada keberanian untuk melakukan inovasi-inovasi. 

"Selain itu, tenun songket yang dibuat para perajin hanya berakhir sebagai lembaran kain sarung dan tidak dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah, misalkan baju dan sebagainya," ucapnya.

Wahyuni, salah seorang perajin mengaku senang dengan bimbingan yang diberikan oleh Bekraf selama tiga bulan. 

Selain mendapatkan pemahaman membuat motif dan desain, pelatihan ini juga bisa menjadi momen menggali khasanah lokal yang selama ini terpinggirkan, yakni pewarnaan alam untuk kain tenun.

"Dulu ada pewarnaan alami, namun sekarang sudah ditinggalkan. Melalui pelatihan ini kami bisa mendapatkan pengetahuan yang sebenarnya sudah ada di sini tapi tidak pernah dipakai," tuturnya.

Direktur Fasilitasi Infrastruktur Fisik Bekraf Selliane Halia Ishak sangat senang dengan perkembangan yang telah dicapai oleh perajin tenun setelah mengikuti proses pembinaan  ini, karena banyak motif yang telah dibuat oleh para peserta di akhir pelatihan.

"Saya bangga dengan ibu-ibu yang telah mengikuti pelatihan di sini. Diharapkan nanti bisa mengembangkan ke fesyen, seperti membuat baju, celana, rompi, yang terbuat dari tenun songket. Nanti para perajin akan terus kita bina," katanya.

Dalam kegiatan pembinaan ini, Bekraf menggandeng desainer papan atas, yaitu Denny Khosuma.

Denny Khosuma, yang juga jebolan Vecoles Des Beaux Arts, Angers Perancis mengatakan ada dua motif klasik yang selama ini sering dikerjakan oleh para perajin tenun di wilayah ini. Akan tetapi, dua motif tersebut belum pernah sekalipun dicoba untuk dipadu-padankan.

"Dalam workshop ini akhirnya berhasil dilakukan perpaduan dua motif klasik. Yang penting, para perajin tetap tekun untuk mempraktikkan apa yang telah diajarkan selama pelatihan ini," ucapnya.

Pelatihan dan pendampingan para perajin tenun songket ini dilakukan dalam rangka pembentukan Ekosistem Desa Kreatif. Hal ini dimaksudkan untuk mengenali potensi unggulan dari sebuah wilayah dengan berupaya untuk mengetahui empat rantai nilai ekonomi kreatif, serta empat pihak yang terlibat yakni akademisi, bisnis, komunitas dan pemerintah.

Program fasilitasi pembentukan Ekosistem Desa Kreatif memiliki tujuan besar, yaitu peningkatan produk domestik regional bruto, peningkatan jumlah tenaga kerja terampil, serta pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal.

sumber : antaranew.com
Cara Seo Blogger

Berita dan Tips-Tips Terbaru